Fusion fic : Tokyo GHOUL with Harry POTTER

Rabu, 17 Desember 2014

I'm gonna use Lily and Remus as my later pairing. =)

---
Tokyo Ghoul © Ishida Sui
Harry Potter © J.K Rowling


[Prelude]
The Red Hair
by Leon
--- 

Ada sebuah kabar burung yang menyebar amat cepat, terbawa oleh bisikan hujan, dan terdengar seperti bising langkah serdadu di tengah-tengah peperangan. Berita itu mungkin lebih menyerupai nyanyian hantu yang tidak bernama, seperti sosok si kepala nyaris putus bernama Nick yang konon katanya tewas dengan hanya menyisakan bagian otak dan tengkoraknya saja; tubuh dan organ vitalnya berserakan di berbagai tempat. Itu tampak bagai cerita burung yang terlintas di banyak mulut warga London dan sebagian besar kota-kota padat penduduk lainnya di Inggris Raya, di mana legenda telah menjadi buah bibir masyarakat menengah ke bawah. Dibumbui oleh sisa-sisa kengerian di masa perang dunia dan bau mistis yang melengket di bawah hidung. Well, tanpa sepengetahuan mereka—di sini adalah sekelompok manusia yang terlahir dan menjalani hidupnya sebagai omnivore dan bukannya penganut kanibalisme—legenda tak bertuan itu lebih dari sekadar mitos berkedok Nick-si-kepaa-nyaris-putus atau Jack The Reaper. Predator tertinggi menunggu dan mengintai di saat mereka tertidur pulas, bahkan ketika orang-orang tua mencoba meninabobokkan anak-anaknya. Di masa-masa itulah, sosok-sosok penuh kegelapan keluar dari rumah-rumahnya, mencari makan, dan berburu.

CCG menamainya ghoul. Baik di London, Manchester city, Paris, Roma, Budhapest, bahkan Tokyo.

Tetapi, kisah berlatar kabar siulan yang terbang bersama sayap-sayap merpati ini tidak berupaya memancing ghoul sebagai tokoh utamanya. Bisikan-bisikan ini malah bermakna sebaliknya. Tersebar di komunitas ghoul bawah tanah dan nyaris mengusik kedamaian acara makan malam para ghoul kelas atas. Tersebutlah sebuah omongan-omongan aneh berbentuk The Red Hair grim reaper. Tepatnya, wanita pencabut nyawa berambut merah menyala.

Ia bukan ghoul. Kalau begitu, apakah ia manusia? Justru semakin diragukan. Tak ada bukti yang menyatakan ia mendatangi ghoul-ghoul itu atau kasarnya menjebak mereka mengikuti pesona rambut merahnya yang konon begitu terik bagai matahari berdarah, dengan menjinjing koper besar berbentuk persegi panjang berwarna perak mengkilat. Khas para penakluk ghoul milik CCG. Mata-mata ghoul yang terpancing olehnya namun sempat menyelamatkan diri sebelum akhirnya mati oleh peledak mini yang secara sadis sukses dimasukkan ke liang telinga si ghoul. Pertama, ia adalah wanita. Berparas cantik dan sangat polos, seperti bunga lili putih yang mengeluarkan aroma memikat rasa lapar ghoul. Kedua, ia memiliki senyum yang dewasa, tidak kekanakan seperti Kamishiro Rize yang menjadi obrolan-obrolan pengisi waktu kosong karyawan CCG cabang London. Bagi yang tak mengenal Rize, ada baiknya jika mulai saat ini, bukalah koran-koran lama London Times ber-header Mad scientist succeed making hybrid ghoul in Tokyo, Japan’, nama Kanou, mahasiswa malang bernama Kaneki Ken, dan Rize sendiri tertulis di dalam paragraf demi paragraf. Berulang-ulang kali. Ketiga—alasan klise yang sering muncul di drama-drama vampir lainnya.

—tak ada satupun yang dapat terbebas dari jerat busur quinque-nya. Strike to the heart and brain.

Maka, ghoul-ghoul tidak bersimbah darah. Malah, mati mengenaskan dengan panah tercokot di jantung dan otak.

Darah mereka habis untuk mengecat beberapa pesan kata. Di tembok-tembok kosong, tepat di belakang lorong-lorong gelap gedung konstruksi baja yang terbiarkan, wanita berambut merah itu menulis tanpa tersenyum. Seolah, ada amarah dan dendam yang turut teruntai dari gerakan lunglai jemarinya.

Ia menulis:

For my beloved father and mother in heaven, I present these pretty coloring hearts for you. Please, wait for me.

Wait me until God forgives my sins through these monster’s bleed.

Tak ada tanda tangan maupun paraf.

Nama atau alamat.

Semua kata akan terukir di tempat yang berbeda. Dengan satu atau lebih dari tiga mayat ghoul.

Katastrofi di dunia terasing dan terlindungi kaum pemangsa tertinggi ini sedang dimulai. Dan, Nick merekam segalanya dari bilik kamera cenayang miliknya. Oh.

Waktu berputar di titik yang sama dan pagi menjelang siang menjadi saksi mata yang bersuara di balik berita-berita burung itu. Ada langkah-langkah pelan yang berbenturan dengan blok-blok bata pedestrian cross jalanan tersibuk di kota London. Manusia hingga ghoul berlalu lalang, sulit dibedakan, bercampur baur satu sama lain, berbagi aroma tubuh yang hanya diketahui oleh ghoul semata. Dari berbagai sudut, kesibukan terpancar jelas di wajah lelaki berpakaian rapi dengan handsfree sembari berbicara terkekeh-kekeh seorang diri. Tepat di toko garmen bridal, sosok wanita bertata rias super manik menunggu dengan bibir yang mengerucut. Ia melihat arloji emas yang didapatkannya secara cuma-cuma dari seorang pria beristri—begitu menurut pengakuannya pada si wanita. Lambaian tangan si wanita terbalaskan oleh senyum letih lelaki itu. Keduanya terlibat sedikit cekcok, tetapi mereka tetap melangkah bersama. Lelaki itu memeluk si wanita, meletakkan jari-jarinya di sepanjang kurvatur tubuh gitar si wanita. Mengendus lehernya lama. Hingga, hanya ada kata ‘tempat sepi’ dan ‘ayo bercinta’ yang terbisik. Tanpa diketahui si wanita, ia baru saja masuk ke dalam jebakan sesosok iblis bermata merah.

Polisi London akan disibuki dengan ditemukannya mayat wanita pengemis cinta yang isi organ dalamnya memburai keluar. Menyisakan serpihan keras yang sulit dikunyah dalam satu gigitan.

Sepasang iris hijau cerah mendapati pemandangan itu. Memicingkan mata seperti ingin menandai buruannya. Yang anehnya, mereka saling bertukar pandang. Bertemu mata sepintas di pinggir garmen yang tidak terlalu ramai. Tatkala jarak mulai menjauh, kedutan di sudut bibir si mata hijau tertarik ke atas.

Tapi, ia bersantai di hari Jum’at ini sebagai kompensasi akhir pekan yang diisinya dengan membantu atasan yang tak paham cara mengisi database komputer, bukan untuk mencincang-cincang daging babi untuk dijadikan sate. Tidak mestinya ia turut andil dalam hilir mudik komunitas yang tumpah ruah ini. Namun, di dunia virtual, ia memiliki identitas lain. Terkenal dengan julukan Mad Pen—nama pena yang terdengar biasa-biasa saja. Namun, ada rahasia di balik nama itu dan ia sedang tidak ingin membaginya dengan siapapun, terlebih ketika ia baru saja pulang dari latihan biola. Memunggungi tas kecil berisikan alat musik gesek itu seraya menjinjing tas kain yang tersimpan laptop dan skrip novel di dalamnya. Penulis adalah kehidupan yang diidamkannya semenjak kecil. Walau tidak begitu menarik, ia akan menyempatkan diri mencicip secangkir kopi di kedai klasik yang terletak tak jauh dari pinggir kota London ini. Mengetik dan meneruskan kelanjutkan novel bertema fantasi distopia yang berhenti di seri kedua. Plus, waktu khusus untuk sesosok pria misterius yang bermandikan kerlip cahaya matahari yang terpantul dari sisi seberang mejanya. Berambut coklat madu dan berpunggung tegap.

Rambut merahnya terurai seperti biasa. Diikat setengah untuk menghindari bagian yang sering jatuh saat ia menunduk. Ia mencari sudut yang sama, memanggil pelayan yang sama, dan minuman yang sama. Menyalakan laptop mininya dan menunggu hingga lambang buah muncul bersama desing ringan.

“Ice frappucino, please. Less sugar. As usual, Katie.”

As usual, right? Oke, dan seperti biasa, tunggulah lima menit.”

Ia tersenyum. Sembari melipirkan mata hijaunya ke samping depan. Sekitar satu setengah meter dari bangkunya. Pria itu tak ada di sana. Ia membuang nafas kecewa tapi bibirnya yang lembab tidak berubah sesuai mood-nya di hari itu. Ia memastikan untuk tidak terlihat mencolok dengan dress semi formal selutut berwarna pastel dan helai-helai merah yang tumbuh di atas kepalanya. Tetap saja, terkadang ada tamu-tamu tak diundang yang akan tertahan di sana. Mengikuti instingnya yang super dungu dan berpura-pura menjatuhkan buku atau minumannya tepat di samping meja si gadis.

Jari-jarinya berhenti di baris keenam, saat ia memasuki kalimat pembuka berupa seorang gadis tertahan oleh hembusan angina malam yang menusuk dan sepasang mata berkobar bagai api—sebelum pria berjas hitam itu meletakkan buku-buku jemarinya yang kurus di atas buku skrip itu. Mata mereka kembali bertemu.

“Ada yang bisa kubantu, Sir?” tanya si gadis ramah. Menyembunyikan jemarinya di bawah meja.

“Boleh aku duduk di sini?”

Faktanya, masih banyak kursi kosong di kedai kopi itu. Namun, bagian yang paling menarik akan dimulai sebentar lagi. Jadi, si gadis tutup mulut dan mengangguk lemah.

Well, katakan ini aneh. Tapi, aku baru menyadari satu hal. Tampaknya aku pernah meihat wajahmu tersebar secara sembunyi-sembunyi di banyak situs dalam internet. Yang kutahu, kau adalah author di balik novel yang sedang kubaca sekarang.”

Pria berwajah sedikit pucat dengan tulang rahang yang agak menonjol itu mengeluarkan sesuatu dari saku di jas bagian dalam yang dikenakannya. Ponsel layar lebar yang diutak-atik dengan gerakan lihai jari-jari kurusnya hingga muncullah sebuah gambar yang berasal dari lembar terdepan novel berjudul Fly to Mother Earth jilid dua. Dengan warna hijau terang seperti rumput dan lukisan abstrak remaja lelaki berkacamata segiempat yang sedang memeluk bumi. Si gadis kembali menarik sudut bibirnya. Memandang balik tatapan lembut si pria asing yang tak perlu susah-susah dikenalinya. Sebab, ia sudah bisa menebak sebentar lagi percakapan sia-sia ini akan berakhir ke arah mana. Terowongan gelap yang dipenuhi kunang-kunang ataupun lorong-lorong sempit yang disesaki oleh tong sampah serta kucing liar. Pada intinya, tembok-tembok menjulang tinggi di mana para remaja dimensi urban menuangkan graffitinya secara bebas.

“Ah, seharusnya aku mengucapkan terima kasih. Really. Aku sangat terharu ada yang membaca tulisanku tapi sungguh—“ Gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri, mengintai seolah ada perbicangan penuh rahasia yang sedang terjadi. “—aku berharap hal ini tetap menjadi rahasia yang tidak secara meluas tersebar di masyarakat. Sebab, penulis sepertiku lebih mencintai jumlah pembaca setia dibanding realita bahwa aku benar-benar eksis di dunia ini.”

Kekehan di balik deheman si pria dibalas oleh tawa yang sama oleh si gadis.

“Sesungguhnya, aku sangat mengagumi karya-karyamu. Benar. Aku tidak berbohong. Aku baru mulai di chapter dua, dan tampaknya aku bisa membayangkan kehidupan macam apa yang kau berikan pada tokoh utama protagonist dalam buku ini. Sangat disayangkan ketika ia harus mengungsi bersama ratusan ribu manusia bumi lain yang berhasil selamat dari serangan wabah penyakit itu. Senjata biologis adalah senjata paling mematikan, bukan? Dan, plotnya mengingatkanku pada sesuatu. Aku menyaksikan berita yang terjadi di Afrika di tv, tentang ebola. Mengerikan.”

Gadis ini menyimak dalam diam, tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya. Cara pria yang tak dikenalinya ini berbicara terkesan sangat terbuka, terlebih pada opininya terhadap kasus-kasus yang menyerbak luas di tenah-tengah hingar bingar populasi manusia akhir-akhir ini. Mengesankan jika ia benar-benar adalah manusia. Begitu pikir si gadis meracau. Respon yang keluar dari mulutnya hanya deheman panjang. Lawan bicara si gadis mengedutkan dahi sembari tertawa sedikit lepas.

Sorry. It’s a very awkward moment, I guess. Tapi, kau bahkan tak pernah mengungkap namamu yang sebenarnya di publik. Dengan jutaan kopi novel  di bawah nama pena Mad Pen yang sukses tersebar ke banyak negara hingga Asia, sudah seharusnya kau membiarkan para fans melihat wajahmu secara –hmm jujur, kurasa. Bersama nama dan alamat agar fans bisa mengirimimu surat, mungkin.”

Bibir si gadis membentuk seuntai senyuman penuh arti. Tapi, ia menelan kata-katanya kembali saat Katie tiba bersama segelas frappucino dingin.

Here, your drink. Ada lagi yang bisa kubantu untukmu?”

“Nope. Thanks, Katie.

 Si pramusaji berkostum kotak-kotak dengan jins louse melengang pergi dengan alis yang ditautkan. Mencoba memberi kode pada si gadis berambut merah. Seolah ingin berkata bahwa berbicara dengan orang asing yang berwajah pucat bukan jalan keluar efektif untuk mengurangi stress akibat pekerjaan menumpuk yang tiada habis-habisnya. Berkencan dengan lelaki berjas di tengah-tengah musim panas seperti ini sungguh akan mendatangkan petaka. Pepatah tua menyebut hal demikian.

Dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. Percakapan mereka kembali mengalir seperti semula.

“Sayangnya, sama seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, Sir. Bahwa, aku hanyalah penulis sederhana yang membenci kehebohan. Lagipula, aku dan kamera sangatlah tidak bersahabat. I’ve got some anxiety disorder, as you may assume—sulit untukku bertingkah laku sesuai harapan fans di depan umum. Menjaga imej merupakan konotatif yang ingin kusingkirkan dari pribadiku. Sebab, itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Bukan begitu?”

Tawa kecil yang tertahan keluar bersama ekspresi skeptis. “Oh, benarkah? Aneh. Aku justru berpikir sebaliknya, Miss Mad Pen. Dari caramu menguraikan deskripsi dalam buku ini, aku bisa berkonklusi bahwa kau tipikal penulis yang blak-blakan—di mana akan sangat mungkin terefleksi dari keseharianmu di luar peranmu sebagai aktor di balik nyawa err—“

“Hans. Itu nama tokoh protagonist malang yang kupilih. Mengingatkanku pada malam keduabelas di awal musim dinginku yang tidak terlalu menyenangkan. Haha.” Sambung si gadis sembari menyesap kopinya yang dingin. Mengencerkan suasana dan kepalanya yang mulai tak sabaran menunggu akhir dari percakapan tak berguna itu. Baginya. “Aku tidak seperti yang kau bayangkan, Sir. Pembacaku akan menilai kepribadian Mad Pen berdasar teori-teori yang kubuat di dalam novel itu, tetapi tak satupun yang bisa membuktikan apa-apa. Aku bekerja sebagai karyawati yang sibuk meladeni urusan dokumen keuangan dan database perusahaan penyuratan di Glasgow dan akhirnya nasib menuntunku untuk lebih giat menulis dibanding mengurusi urusan orang-orang yang tidak kukenal. Well, tidak berjalan mulus awalnya. Hijrah ke London dan mencari sesuap nasi di kota industri sebesar ini nyaris merupakan kenihilan. Ditambah lagi dengan isu-isu yang beredar di tengah-tengah masyarakat saat ini. Sigh.

Dengan lengan yang dilipat di dada, si pria mendengar dalam emosi yang datar. “Oh ya? Apa itu ada hubungannya dengan berita-berita mengenai mayat manusia yang ditemukan di lokasi-lokasi yang tidak wajar? Tapi bagiku, itu adalah suatu keuntungan, bukan? Yah, setidaknya populasi kita yang membludak ini akan berkurang meski dengan cara yang—sedikit sadis?”

Sedikit ya?

“Di terowongan gelap. Di lorong-lorong tak berpenghuni. Atau gedung-gedung berhantu. Itu justru terlihat wajar. Manusia macam apa yang dengan seenaknya tinggal di tempat seperti itu, huh?”

Desah nafas panjang diakhiri bunyi sedotan berisik mengusik telinga si pria dalam jas hitam. Ia menautkan kulit di antara pertemuan kedua alisnya, bersandar santai, masih melipat lengan. Mengamati lamat-lamat gadis dalam balutan dress berwarna sepadan dengan kulit mulusnya yang terawat. Kecuali bagian di mana ujung-ujung rambut merahnya yng mulai mencuat akibat berjalan terlalu cepat sebelum tiba di kedai itu. Sekitar duapuluh detik kemudian, sepasang pupil yang dilingkari iris hijau mengkilat-kilat penuh keanggunan dalam menggilas lawan. Memandang penuh sayatan tajam. Mengiris-iris dengan tatapan setengah peduli.

In fact, cukup mengherankan ketika kabar banyaknya mayat-mayat ternyata tidak memiliki identitas yang resmi. Sebagian besar merupakan tuna sosial ataupun tuna wisma yang berkeliaran bebas di jalan-jalan kota London ini. Merusak keindahan kota di malam hari. Mengaburkan definisi keimanan yang konon melekat kuat di tradisi negara kita. Seperti Jack The Reaper versi lain, ya? Sayangnya, Jack sangat memilih-milih korbannya. Wanita tuna susila yang memakai cincin di kelingkingnya. Mengingatkannya pada sosok ibunya yang juga berprofesi sebagai wanita panggilan. Ah, aku bercuap-cuap terlalu banyak. Intinya adalah, banyak misteri yang seringkali hanya tertulis dalam legenda maupun mitos, Sir. Ide-ide kasual penulis masa kini benar-benar luar biasa. Kuakui itu. Tapi, sangat menyedihkan saat kisah horor semacam itu terangkat ke kehidupan nyata. Menyeramkan.”

Bunyi kriet dari kaki kursi yang diduduki pria pucat itu memaksa si gadis mengangkat wajahnya. Memancarkan aura kecantikan serta keanggunannya. Kuping si gadis menangkap suara glup bersamaan gerakan kerongkongan kering milik dari leher kurus si pria.

“Ah, pardon me. Di mana sopan santunku. Semestinya aku memesan minum untukmu, Sir. Well, sebagai hadiah karena sudah membaca novelku.”

“Oh, no problem. Aku tidak akan lama di sini. Hanya… butuh sedikit waktu saja darimu, Ms Mad Pen.” Jawabnya seraya mendekatkan wajahnya yang bertekstur aneh ke wajah si gadis. Memain-mainkan jarinya yang bebas di udara. “Warna matamu sangat indah, kuakui itu. Aku baru menyadarinya selama memerhatikanmu berbicara. Dan—mengenai Jack The Reaper dan sebagainya, aku melihatnya sebagai pahlawan. Definisi yang berbeda, bukan? Terkadang, kita perlu membuka mata lebar-lebar dan melihat dari kotak yang berbeda, Ms. Bagaimana jika sudah menjadi sifat naluriah suatu makhluk yang ingin membuat teritori nyaman untuk dirinya? Bahkan dengan cara-cara yang seperti katamu tadi—mengaburkan banyak pandangan kesucian dan kebaikan yang tergambar dari kota kita tercinta ini, London.  Ambil sisi positifnya. Lupakan soal moralitas dan keimanan yang kau sebutkan. Jika untuk satu atau dua mayat saja, itu tidak berlebihan. Malah, membantu para polisi menyelesaikan tugas-tugasnya di malam hari? Mengajari soal berbuat kebaikan pada mereka yang anti sosial—tuna susila itu. Hanya semalam saja, Ms.”

Ujung jemari pucatnya tiba di tepi layar laptop si gadis. Memaksa dengan tekanan lembut tapi cukup berbahaya hingga bunyi thud pelan sukses menutup satu-satunya laman kerja yang ingin diselesaikan sosok di depan pria itu. Perlahan, si rambut merah menyembunyikan keengganannya dari balik poni-poni yang berjatuhan. Tersenyum pias dan setengah ikhlas. Dunia miliknya sudah tersedot oleh sepasang obsidian perak bercampur darah.

“Sebagai penulis dan karyawati yang berpenghasilan rendah, kau butuh sesuatu untuk merelaksasikan diri. Melepaskan semua tegangan yang nyaris membuatmu gila.”

Bersama bisikan iblis bervenom, jemari-jemari itu merayap bagai kelabang. Mencari tubuh hangat untuk dicuri. Menggenggam dalam remasan.

Just le it go, Ms Mad Pen. I’m going to help you. This is the only thing I can do as your fans.

Senyum manis itu mengembang kembali. Dihiasi dengan rona merah di pipi. “Really?

Sure.”

Membiarkan buku-buku jemarinya yang tak sempat disembunyikannya selepas meletakkan gelas kosong frappucino ‘tuk diremas erat. Menatap balik dua bola mata yang mengikatnya dengan kutukan penyihir jahat. Aneh. Perasaan euphoria mulai menggeliat dari puncah teratas tulang belakangnya, menghantarkan ribuan impuls elektrik hingga ke tepi saraf perifernya. Pengendalian dirinya mulai beranjak tak stabil. Satu tangan lain yang diletakkan di atas pangkuannya turut meremas hingga tampak pucat.

“Kalau begitu, hm, bolehkah aku bertanya satu hal padamu, Sir?”

“Ya.”

Lalu, kata kunci tersebutkan. Terdengar khidmat.

Kata kunci menuju kematian.

“Kalau kau memang benar-benar menyukai novel Fly to Mother Earth, katakan padaku—“

“Hm?”

“—mengapa Hans tak berhenti menangis meski ia telah berhasil mengembalikan Mother Earth pada manusia yang tersisa?”

---

"Karena ia bahagia tentu."

---

Bias sinar matahari di ufuk barat mulai menukik tajam. Hari yang gelap akan memulai pertunjukannya. Diawali tirai-tirai hitam yang bermetamorfosis dari langit jingga menuju kelabu. Tumpukan lapis awan memudar diselingi oleh lukisan gagak. Berkaok-kaok sebagai tanda penunjuk kaumnya untuk kembali ke sarang masing-masing. Di luar jendela, teriknya matahari semakin melembut. Diikuti angin petang yang menurunkan sedikit demi sedikit kelembaban tanah. Banyak tapak kaki yang mulai meriuh, baik di jalanan raya ataupun taman-taman kota. Tak sedikit dari mereka melewati berbagai jenis lorong sempit sebagai cara teraman untuk terhindar dari kemacetan.

Lorong gelap itu hanya satu dari sekian ratus terowongan tikus yang tidak terjamah. Sisa-sisa ruang di antara gedung-gedung pencakar yang masih dalam proyek mega konstruksi. Menjadi titik-titik lemah yang peduli setan dilalui oleh penegak hukum. Tak ada waktu untuk mengoreksi kebenaran dunia yang memang sudah salah dari awal. Dimulai dari keberadaan monster pemakan daging manusia di atas bumi yang indah ini. Apakah mereka telah lahir bersamaan Homo sapiens? Ataukah mereka adalah bentuk mutasi akibat kerusakan alam yang semakin parah ini? Efek globalisasi dan industri? Tak ada satupun yang mendekati.

Namun, sepasang pria dan wanita berdiri satu sama lain di bawah terangnya rembulan. Si gadis dengan tas biola di punggungnya dan si pria dengan senyum memikatnya.

Apapun yang terjadi setelahnya hanyalah misteri lain dari kehidupan. Di sudut kota London.

Hingga lima belas detik kemudian.

“Aku… menyukaimu, Ms. Mad Pen. Bolehkah aku…”

Ia memeluk si gadis. Si gadis berambut merah.

Si rambut merah yang membawa sejuta misteri dalam kisahnya.

Pria itu baru saja menemui pencabut nyawanya—

—tak lama setelah…

“…mencicipi dagingmu?”

…ia memerlihatkan kejelekan dunia yang salah.

“Silakan saja. Tapi… langkahi dulu quinque-ku, oke?”

The lady with red hair. The goddess of reaper. The grim reaper.

---

For my beloved father and mother in heaven, I present these pretty coloring hearts for you. Please, wait for me.

Wait me until God forgives my sins through these monster’s bleed.

---

Sign,
Your dearest Lily.

---

“Tidakkah kau tahu alasan mengapa Hans tak sekalipun berhenti menangis walau Mother Earth kembali kepadanya?”

Busur. Empat puluh satu inchi. Hitam. Legam.

Menembus dan merobek dada dan mata sesosok ghoul yang mencoba peruntungannya di saat yang teramat salah. Mengeluarkan jantung serta otaknya. Membunuh pompa hidup dan kakugan-nya sekaligus. Cara paling ampuh menghabisi ghoul hingga tak bisa bernafas kembali.

Gadis itu bermandikan darah. Dress berwarna pastelnya robek sana-sini dan ia berdiri di hadapan tembok berisi pesan terakhirnya pada dunia yang amat dibencinya itu. Meratapi masa lalunya. Pandangan yang kosong diserahkannya pada mayat ghoul berjas hitam itu.

“Katakan padaku, wahai kau yang mengaku adalah fansku. Kematian manusia bukanlah hak kalian, para ghoul. Begitu pula untuk nyawa kalian. Tapi… Tuhan mengirimku kemari untuk satu tujuan dan aku tahu, doves akan mulai mengusik identitas si rambut merah yang tersebar bagai kabar burung di komunitas kalian. Aku tidak peduli. Lagipula, aku memang bekerja untuk CCG—sebagai karyawati membosankan yang tidak lebih dari tukang suruh.”

“Dan, ah—kau salah menjawab pertanyaanku tadi. Mengapa Hans tak berhenti menangis? Hm?”

---

‘Karena ia bukan lagi manusia bumi.’

---

THE END—?



0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.