Passion for The Week.

Jumat, 20 April 2012

No words. No sentences. Only a picture. One picture.


Credit:
At elegant photography, April 11th 2012.

Picnic and Games.

Kamis, 19 April 2012

Sore, fellas. 


Saya balik dengan ramblingan gaje saya tentang dua hal yang udah saya sebutkan di judul. I won't talk much in this session. Saya lebih suka ngasih deskripsi via foto atau pun gambar. Jadi, ceritanya gini. Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 11 April kemaren, saya dan beberapa temen kampus had vintage picnic. Temanya mudah kok. Vintage! Lalalala. Jadi pemilihan kostum dan warna semuanya pastel dan soft. Pokoknya properti dan kostumnya diatur supaya mirip-mirip. Haha. Yahh, mungkin aktivitas photo session ini bukan kebiasaan kami, cuma buat ngisi waktu luang saja pasca ujian. Cause, one picture could describe thousands words. =)

Berikut ini properti yang kita tampilkan selama piknik berlangsung. Oh iya, lokasi piknik kami lumayan jauh ya dari kota dan sempat nyasar ke sana ke mari demi lokasi~ (dor) Tapi, senengnya gak ketulungan pas dapat lokasi yang yah.. lumayan mendukung, meski hari udah semakin gelap aja. TAT

Fotografi oleh saudari DRD (nama samaran) atau lebih tepatnya the butterfly girl yang juga ikut bersama kami di photo session ini. Menggunakan kamera SLR tipe entah-apa-itu (yang gak tau tentang gituan).

Our properties. =)




Our beautiful foods and beverages 


Another eye catchy vintages. XD

Voila! This is it! Which one is me? :D

Games. Di judul juga ada kata games. Maksudnya apa ya? Yahh, masa-masa fg-ing saya tentang Hunger Games tentunya. Sekuel kedua (Catching Fire) udah saya tamatin meski sehari sesudahnya saya ada ujian sistem. LOL. Dan know what, sekuel ketiga (Mockingjay) masih stuck di chapter tujuh. =___=

Please give meeeh the mockingjay piiiin~

Akhir kata sekian blog saya hari ini. Cuma mau posting kegiatan saya selama beberapa minggu ini kok. (dor)


Hunger Games Attack!

Sabtu, 07 April 2012

It's almost reaching midnight, fellas, and I doubt I could get my beauty sleep tonite'. But, my over reacting brain keeps me stay tune one PC since I've watched 'Hunger Games' on theater. So, for killing my over-bed-time, I supposed to write something about that movie. Whoozah! XD

Sebelumnya, saya memang belum pernah baca bukunya, tapi udah denger-denger dari banyak sumber kalau tuh versi novelnya bakal dibuatin film. Dan voila! Saya kira dan menurut desas-desus kabar angin selatan, barat, timur, dan utara, bilang katanya film itu isinya cuma bunuh-bunuhan doang. Iya sih, awalnya memang dan intinya cuma games bunuh-bunuhan. Dulu, saya pernah nonton film Jepang bertemakan sama. Judulnya... jeng jeng jeng... Battle Royale! Lebih sadisan pelem ini sih emang. Dan, dari awal sampai akhir, isinya cuma bunuh-bunuhan doang. Nah, Hunger Games sendiri tak hanya mengekspos sisi 'kejinya' dan 'thriller'-nya saja. Menurut saya yang udah menyimak film ini, Hunger Games tak hanya mencakup satu jenis genre, melainkan multiple genres, e.g : romance, drama, family, sci-fic (paling kelihatan), action, adventure, dll. Begitu banyak genre kemudian dikemas menarik oleh sang penulis, Suzanne Collins. =))

Dimulai dengan kehadiran Katniss Everdeen, gadis 16 tahun berkepang yang hidup di distrik termiskin kota Panem. Hunger Games sendiri sebenarnya dibuat sebagai anniversary untu mengingat bagaimana perjuangan menuju evolusi pasca perang terjadi di Amerika Utara. Konon katanya, kota Panem, Capitol, dan ke-12 distrik berasal dari sana. Semenjak perang, terjadilah perubahan tata nama dan pembagian kota. Semakin besar angka distriknya, maka semakin berkurang kemakmurannya. Dan, di distrik 12-lah, kedua tokoh utama kita berasal. Katniss Everdeen dan Peeta Mellark. Kyuuung~

Dari sisi pengambilan scene dengan kamera, nuansanya seperti kayak di film dokumenter. Kameranya sering bergoyang, tetapi di situ lah daya tariknya. Yah, saya sih sebenarnya gak banyak tau soal bagus tidaknya kualitas sebuah film ditinjau dari kacamata profesional, jadi yang saya bilang bagus berarti sesuai standar saya. Wkwk.

Aaa. There lot of fluffy things in there! Buktinya, Peeta yang dengan beraninya berkata ke audiens/penonton Hunger Games kalau dia suka Katniss. Kyuuung. Tapi, Katniss hanya menjawab dari belakangs stage dengan tatapan marah dan emosi. Sampai-sampai dia nyaris nyekik si Peeta. Dan juga, ada scene di mana saat mereka lagi di hutan dan udah berpisah satu sama lain, terus si Peeta ternyata gabung dengan tim ugh-so-annoying peserta dari distrik 2 dan 1 (Glimmer, Cato, Clove, dan Marvel), saya sempat berpikir yang enggak-enggak tentang Peeta. D:

He must be the traitor! And I despise traitor! D:

Tapi, ternyata... akhirnya saya tau tujuan Peeta bergabung dengan tim-nya Cato, dkk. Biar, dia bisa tau pergerakannya mereka. Karena, sampai di pertengahan games, Katniss selalu selamat. Kemungkinan besar, tim Cato pasti ngincar Katniss. Hiks. Dan, memang terbukti. Nyatanya, Katniss nyaris tertangkap mereka. Tapi, berkat bantuan Rue (peserta dari Distrik 11), Katniss bisa menyelamatkan dirinya yang cuma bisa bertahan di atas pohon. Serbuan serangga yang menurut saya kayak Tomcat (?) itu bikin tim-nya Cato lari ngibrit, plus dengan berakhirnya nyawa si Glimmer. Gegara Katniss juga kena beberapa gigitannya si serangga, efek halusinasi ngaburin pengelihatan sama kesadarannya. Di tengah-tengah pelariannya, Peeta nyuruh dia buat lari sesegera mungkin dari sana, 'coz si Cato keliatan mau balik ke TKP.

Yang bikin mewek adalah scene kematian Rue. :'|

Aaa, I love the scene in cave! So sweet~ Ya pokoknya begitulah. Tee hee.

Tunggu dulu, sebenarnya Hunger Games itu apaan sih? Well, seperti yang saya sudah saya sebutkan di atas, game ini memang bertujuang untuk saling membunuh satu sama lain. Dalam artian, survival games. Siapa yang bisa bertahan, maka dia lah yang menang. Plus, ada basic rule-nya juga, only one who able to win this game. Meski dari satu Distrik mengirim sepasangan, tetep aja endingnya harus saling bunuh. Nah, karenanya, Katniss pun menolak peraturan itu. Entah dia memang bertujuang rebellion terhadap orang-orang di Capitol sana atau kah memang dia ada hati dengan Peeta. Yap. Romantisme yang diperlihatkan Katniss dan Peeta selama di Carnocupia menarik perhatian para audiens game itu. Untuk beberapa kali, Katniss mendapatkan sponsor seperti obat luka waktu kulit pahanya terkena api dan juga sup hangat untuk Peeta yang mengalami cepticemia akibat luka yang infeksi lama. Karenanya, banyak audiens yang pengen supaya Katniss dan Peeta terus bersama hingga akhir game. Dan, voila! Ke-plin-plan-an si Gamemaker terlihat di sana. Sebelum Katniss dan Peeta nyaris dan hampir memakan berry beracun itu biar mati sama-sama, si Gamemaker bersorak.

"We present you the new winners of 74th Hunger Games!"


Dasar plin-plan. Bzzzzt.

Di situ lah kelihatan kalau pihak Capitol merasa dipermalukan. Peraturan yang udah nempel sejak bertahun-tahun lamanya di Hunger Games malah dipatahin begitu saja oleh karena kisah romantis Katniss sama Peeta selama game. Hal ini pun membuat Presiden Snow (semacam pemimpin di Capitol dan Hunger Games) naik pitam. Bagaimana pun caranya, hanya boleh ada satu pemenang saja. Hingga di edisi buku ketiga (Mockingjay), si kakek tua itu pasti gak mau Katniss dan Peeta bahagia. Nyem nyem.

Ada beberapa hal yang saya sukai dari sosok Peeta. Seperti, dia itu gampang sekali nyari perhatian orang-orang, kalau nebar pesona bakal banyak yang ketarik sama dia. Trus, dia itu pintaaar banget menghias kue dan buat roti. Liat kan bagaimana dia dengan mudahnya dan miripnya melukis tangan dan wajahnya sampai bisa menirukan warna benda di sekitarnya, like iguana, I said. Mimikri! Dia juga bukan tipe cowok pemaksa. Meski yaah, dia tahu Katniss memang dekat dengan Gale, tapi dia masih bisa jaga perasaan Katniss yang galaw getoh. Tapi yang lebih terpenting dari sosok Peeta Mellark adalah... he's totally and madly in love with Katniss Everdeen as if she was part of his cooked bake. :D

Pokoknya, I ship this pairing till the end! XD

























Credit:
Picture by Lei_Li

That Girl is Waiting

Rabu, 28 Maret 2012

Malam, fellas. Hari yang melelahkan untuk beberapa minggu yang lumayan berat. Akhir-akhir ini, insomnia saya semakin parah. Gak parah-parah amat sih, cuma proses bangun tidurnya itu yang parah. Plus, mengingat saya lagi dalam edisi home alone, sepertinya rumah akan menjadi tempat kedua setelah kampus. Well, yeah.

Saya menunggu. Menunggu apa? Jujur sejujur-jujurnya seperti kacang polong, ada sebuah tanya besar yang selalu hinggap di benak saya beberapa hari terakhir ini. Memandangi foto-foto pernikahan beberapa teman dan yahh senior kampus, sedikit mencubit hati saya. Aduh. Saya sudah 20, akan menjadi 21 di tahun ini--kalau Tuhan masih mengizinkan saya hidup. I haven't fallen in love before. Never feel how relationship could grow into a very deep bond, and et cetera. Yah, gitu deh intinya. Sebagian besar hidup saya hanya untuk proses edukasi dan pencarian keterampilan duniawi dan akhirat. Sejak kecil pun, saya tidak pernah jauh sama ayah, ibu dan kakak saya, sehingga mengecap bagaimana sih monkey love itu tak pernah terpikirkan.

Idealnya, saya adalah personifikasi dari bentuk kehidupan yang hanya bergerak di tempat. Kasihan deh lu! Weks.

Karenanya, saya selalu mencurahkan kegelisahan saya akan kekurangan absurd ini melalui soc net dan komik. Nevermind cause probably--maybe--one day, I'll have one. Sayangnya, saya selalu diam di tempat. Hm.

Tidak mengapa. Satu jodoh untuk seumur hidup mungkin hadiah yang akan Tuhan berikan kepada saya. Amin Ya Rabb.

Kenapa saya harus mengkhawatirkan masalah ini, fellas? Nah. Bukan masalah umur saya yang udah kepala dua. Maybe yes, maybe no. Tapi, terkadang saya selalu bertanya dan terus bertanya pada diri saya sendiri. Saya tahu saya sangat banyak kekurangan dan bukan lah tipe gadis yang gampang menebar pesona dan senyum. Saya bagai benda entah-apa-itu namanya yang selalu terkurung dalam batok kelapa. Ngek. Preet. LOL

Lalu, saya juga belum dewasa sama sekali. Masih kekanakan, masih suka pecicilan, masih egois, masih lalalala lainnya. Ungg...

Entah sampai kapan gadis ini harus menunggu. Walau memang, jodoh, maut dan rezeki semuanya ada di tangan-Nya. Saya tidak pernah berhenti meminta doa dari yang Kuasa. Mungkin, sholat sunnahnya saja yang  perlu diperbanyak. Mengingat jodoh itu sama derajatnya dengan maut dan rezeki. =)

Ngomongin soal jodoh yee itu seperti berbicara pada telapak tangan sendiri. Tidak butuh jawaban melalui verbal, tetapi selalu melalui tindakan. Apa ya hubungannya. Gak tau. : |a

Yah, pokoknya begitulah. Bzzt. Pffft. Lalalalalalala~ ngek.

Seyogyanya, dan sesuai intuisi kita sebagai wanita (kaum Hawa), proses menunggu adalah hal yang paling normal. Tinggal entah dengan cara yang bagaimana 'ia' akan didatangkan oleh Sang Kuasa. InsyaAllah. =)


 drew on I-pad in RKF lecture room. March, 28th 2012.

Diberdayakan oleh Blogger.