Co-Assisstant?

Sabtu, 13 Oktober 2012

Night, fellas. Di sini Leon hadir hanya untuk menyampaikan uneg-unegnya selama menjalani tiga minggu di instalasi Radiologi sebagai seorang dokter muda. Bagian pertama dan perdana. :>

Banyak yang masih dibuat bingung dengan perbedaan istilah co-ass, koas, kos-kap, atau dokter muda. Semuanya bermakna sama kok. Sama-sama mengenakan jas putihnya dengan sulaman nama dan gelarnya dengan benang hijau. Sama-sama mahasiswa klinik yang sedang melalui masa-masa profesinya sebelum meraih gelar dr di depan namanya. Yah, semuanya sama.

Instalasi Radiologi selama tiga minggu cukup berarti bagi saya, meski proporsi bertatap muka secara langsung ke pasien belum ada sebab di bagian ini, kami hanya diberi bimbingan dan arahan untuk melihat langsung proses pengambilan foto (x-ray, colon in loop/barium enema, OMD, BNO-IVP, uretrocystography, USG, dll). Jadi, kemungkinan besar saya sudah pernah terpapar dengan radiasi sinar. OwO/

Ruangan koas kami sangat nyaman, minus udara dingin sebab AC di ruangan tampaknya mengalami kerusakan padahal setiap minggunya kami bertumpuk sebanyak 10 atau lebih manusia. Bahkan, ada tambahan dari kakak minggu kami. Tapi ya, disiasati dengan cara jalan-jalan ke koridor instalasi atau ke ruang baca foto yang dilakukan oleh residen (peserta PPDS) radiologi. Tepat di samping ruangan koas, ada ruangan lain yang dipenuhi dengan light box, meja kayu, dan set komputer untuk mengetik hasil pembacaan foto yang masuk. Semua residen bekerja dengan telaten, mengamati cermat foto-foto yang bertumpuk di meja mereka sehingga kadang waktu untuk membimbing kami terbuang. Kami bisa memahaminya kok. Maka dari itu, kami langsung saja beranjak ke ruangan baca dan berdiri sambil bertanya-tanya ke residen yang sedang membaca foto di light box-nya. Secara tidak langsung, kami bisa seperti mereka meskipun ilmu radiologis kami tentu masih sangat dasar dan sesuai dengan kompetensi kami sebagai dokter umum. Setidaknya pula, kami belajar sambil mengamati. Fungsi motoris dan psikomotor pun bekerja.

Koas itu apa sih? Ada dokter pembimbing kami yang berkata bahwa kami adalah semacam corpus alienum (benda asing yang tidak diinginkan). Kasarnya adalah gulma/hama. Kami disebut sebagai pengganggu karena keberadaan kami yang pure masih kosong dengan hal-hal yang berbau klinis praktis dan bisa diterapkan baik ke pasien pun masih sangat sangat sangat minim. Yah, disadari atau tidak memang benar sih. =w=

Tapi sesungguhnya, mereka yang kini berada di atas kami dulu pernah seperti kami. Merasakan derita, senang, dan sedih sebagai corpus alienum. Mereka mendapatkan ilmu dari eksistensi mereka yang dianggap demikian. Dan, di kemudian hari (saat ini), mereka berhasil menjadi guru-guru kami. Well, saya berharap hal yang sama juga terjadi pada saya kelak. Amin.

Perbedaan mendasar cukup jelas pada mereka yang mengenakan jas putih dan tampak mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ada yang bertangan dingin dan sanggup memberi kesembuhan tanpa tindakan yang bersifat invasif dan ada pula yang kebingungan karena tidak paham. Saya rasa itu normal sebab otak semua orang tidak lah sama meski jika diasah berulang-ulang kali akan memproduksi hal yang luar biasa. Magnificent! 

Oh iya, saya teringat pada hal yang telah saya lalui beberapa hari terakhir ini di instalasi radiologi. Kebetulan konsulen referat saya berlokasi di rumah sakit yang berbeda dari rumah sakit tempat saya berdinas sehingga saya harus mengejar beliau pasca ujian foto kemarin (Jum'at, 12-10-2012). Jaraknya cukup jauuuuuuuuuh, seperti dari barat ke timur atau dari selatan ke utara. Hiks. Belum lagi suhu di kota saya bertempat tinggal memanas dan hujan tampak absen mengguyur kota yang mulai beranjak menjadi kota metropolitan ini a.k.a kota macet broh. Dan, kebetulan juga, salah satu teman minggu saya berencana untuk ujian referat di sebuah rumah sakit tak jauh dari rumah sakit tempat konsulen saya bertugas. Jadilah saya naik motor di bawah teriknya mentari. Saya sadar saya makin gosong hanya dalam waktu dua hari saja. T3T

Saat tiba, saya menunggu di bagian CT-scan, stroke center, rumah sakit itu. Tak berselang lama, saya memberanikan diri masuk ke ruangan konsulen saya dan meminta konsul dan tanda tangan referat saya itu. Cuma lima menit berlalu dan buzz buzz buzz, urusan perihal dokumen referat usai. Maka, karena bosan dan gak tau mau ke mana lagi, mengingat helm yang saya pakai dibawa pergi sama teman saya yang bawa motor itu. Jadi... larilah saya ke sebuah mall tak jauh dari rumah sakit itu. HAHAHA. xD

Apa yang saya lakukan di mall sepagi itu? Yahh, saya duduk-duduk gak jelas di depan market berlabel Hero dan mengamati orang-orang berlalu lalang. Bosan, saya pindah ke lantai dua dan memasuki toko buku Gramedia. Di sana, saya tidak segera melangkah ke rak-rak komik melainkan ke rak-rak yang menyediakan buku-buku sains kedokteran. Yahh, sekedar baca-baca doang sih. Di antara sisipan buku-buku yang bisa membuat saya mengantuk itu, ada barisan buku di bagian bawah rak itu berukuran kecil, kira-kira bisa dimasukkan ke saku jas koas saya. Judul bukunya sangat unik menurut saya apalagi authornya. Itu kan senior saya! O.O/

Kok masih mau jadi dokter?
Itu judul bukunya. Saya keasyikan membaca buku itu hingga tak sadar jam sudah menunjukkan angka 12. Akhir kata, saya pun membeli buku itu tanpa banyak pikir. Haha. Sembari menunggu ujian teman saya selesai di rumah sakit lain, saya membaca sisa bab di buku itu sambil makan donat di J.CO. Saya ini... memang sangat suka membolang seorang diri. Malah, seorang diri itu bebas. Gak terikat dengan keinginan orang lain yang mau ke sini, mau ke sana. Gak enaknya pasti ada dong. Tapi, saat itu saya memang lagi pengen berkelana seorang diri saja.

Perihal alasan mengapa saya membeli buku tulisan senior saya itu ialah karena isinya cukup menggungah hati saya. Bahkan, saya gak takut menangis di pojokan J.CO gegara baca satu chap tentang pengalaman dr. Yose (sang author) yang bertugas di sebuah UGD rumah sakit di pedalaman. Banyak sekali pelajaran akan moral yang memberikan saya banyak gambaran tentang kehidupan paling absurd seorang dokter. Jika ingin ditilik dengan baik, stigma masyarakat yang mengganggap dokter adalah dewa masih melekat erat. Namun... pada hakikatnya, dokter juga manusia, bukan? Tak ada satu pun manusia yang sempurna. Tetapi, ada sebuah tugas seorang dokter yang tak boleh tidak dilakukannya hingga di akhir hayatnya, yakni long live learning.


Tumpukan buku demi buku merajai isi otak, tetapi pada akhirnya lelah dan ngantuk selepas seharian mengurusi puluhan lebih pasien menjadi penghalang. Betapa pun kami dianggap sebagai yang paling tahu, sesungguhnya masih ada hal klasik yang selalu terlupakan. Ini bukan tameng kami pada saat kami melakukan kesalahan, ini hanya pengakuan penuh kelogisan dan rasionalitas yang memiliki arti. Kami bukan ahli nujum yang bisa memerkirakan nyawa dan usia manusia yang berada dalam tanggung jawab kami, tetapi kami bertindak, bergerak, dan berkata sesuai ilmu pasti yang berhasil kami terima selama menjalani profesi ini. Kami belajar dari pasien kami dan tidak munafik kami tidak berkata bahwa kami bisa mendapatkan sesuap nasi oleh tangan-tangan mereka jua. Jika kami melakukan kelalaian, maka itu mungkin sudah menjadi nasib kami. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi kami di kemudian hari.


Semoga kami selalu berada dalam lindungan Ilahi selama menjalani praktik profesi kami. Amin.

Minggu depan, saya akan beralih ke bagian Neurology. Bagian ini saya yakin akan menjadi bagian pertama lain yang memerlukan ekstra fisik dan mental. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesehatan kepada saya, selalu. Amiin Ya Rabb.


Tulisan ini tidak menghakimi siapapun. Tulisan ini murni dibuat atas dasar keegoisan seorang koas baru yang tidak tahu apa-apa selain mengamati dan mencontohi. Bersama dengan hari-harinya yang konyol. Wassalam.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.