A Confession: FID #4 Present

Kamis, 06 September 2012



Mana yang lebih sulit? Memaafkan atau dimaafkan?        

Sebab, bagi seorang Uzumaki Naruto…

kehilangan kepercayaan jauh lebih menyakitkan dibanding kedua opsi itu.
---
Naruto © Kishimoto Masashi
A very big gratitude I show to him. The story below is a fictional only. I just borrow two of his great characters from ‘Naruto’ manga. Theme of the story was based from my true story.

---
A Confession
by ceruleanday
This fic is only presented for Fujoshi Independence Day #4
September, 2012
---

Es krimnya meleleh hingga di dasar sepatu converse yang dibelinya dua hari lalu. Mengumpat dan meringis kecil, lalu ia berbalik menatap si penjual. Mengeluarkan dengusan di antara tawa yang berusaha dilakukannya meski terik mentari musim panas mengalir peluh di sudut kening. Kepala kuning itu tertutupi hanya dengan sebuah kain putih berbahan denim dan cupingnya yang kemerahan. Ia dan ransel super besar itu bagai perwujudan kura-kura ninja yang entah tengah bertualang di alam mana. Sesekali pula mata biru itu melirik anak-anak kecil yang berlarian riang mengejar balon helium berterbangan.

Pelataran taman yang dibuka khusus tiap akhir pekan sesungguhnya bukan bagian dari ritme hidupnya. Melalui minggu terakhir sebelum benar-benar melepaskan masa akademik di sebuah universitas ternama di tempat seramai ini adalah pilihan yang buruk. Ia hanya terjebak dalam situasi yang sangat tidak disukainya. Di balik senyum itu, terkadang kemarahan dan delikan mata super menyeramkan bisa menguar bagai rubah berekor sembilan yang geram. Sebab, Uzumaki Naruto memiliki terlalu banyak topeng.

Ia dapat dengan mudah menghiasi bibir tipis itu dengan cengiran, namun hatinya menjerit. Siapa sangka si pria berwajah imut itu memiliki intuisi yang cukup kuat berkenaan dengan karakter orang yang baru saja dikenalnya? Hanya saja, ia terlalu buta—buta terutama dalam menangkap sinyal-sinyal romansa yang terkirim oleh mata kaum Hawa di sekitarnya. Ia… tidak begitu peduli sebenarnya.

Hingga pada akhirnya, sebuah pernyataan cinta klasik, lebih tepatnya, umpatan mengerikan dari teman masa ciliknya mengisi inbox emailnya. Hanya satu pesan, tetapi terdengar jauh lebih menyeramkan dibandingkan tontonan SAW yang berubah nyata.

“Hah…”

Lagi-lagi, helaan nafasnya bagai mampu memenuhi ruang terbuka itu dengan gas CO2. Meski ia memilih mendudukkan dirinya di salah satu bangku teraman—jauh dari jangkauan anak kecil beringus yang tidak begitu disukainya—tak ada satu pun hal yang mulai terekam oleh kamera berkaca biru langit itu dapat menarik hatinya. Maka, membaca satu per satu pesan dalam ponselnya menjadi pelarian untuk sementara.

…Omedetou, Naruto! Selamat atas kelulusannya! Jangan lupa denganku ya. Kalau tidak, awas saja dengan bogemku ini. Hoho. Sender: Sakura-chan.’

‘…Otan—eh—salah. Hei kepala kuning! Selamat ya! Aku menunggu traktirannya lhoh. Haha. Sender: Inu Kiba.’

‘…Omedetou, Naruto. Sender: Aburame Shino.’

‘…Oissu! Selamat selamat selamat, Naruto! Masih penuh semangat, oke! Sender: Lee Rock.’

‘Selamat, Naruto. Di hari kelulusan nanti, aku akan membawakan lukisan terbaik yang telah kubuat khusus untukmu. Dan… semoga ‘anu-mu’ makin besar. Sender: Sai-mesum.’

‘…’

‘…’

Penuh. Telah melebihi kapasitas memori yang mampu ditampung oleh ponsel bututnya. Karena bosan, ia cukup menengadah, menatap langit, dan meminum dengan tamak sebotol Pocari yang digenggamnya bersama cone es krim. Lalu, segalanya melumer. Isi benaknya, hatinya, dan es krim vanilla yang sama sekali tidak disentuhnya. Ia menelan ludah dan bergidik ngeri. Andai ia memiliki pasak waktu yang membuatnya dapat kembali ke masa lalu, tentu ia tak perlu susah payah dipertemukan dengan takdir yang bergerak seperti jigsaw puzzle ini. Pertanyaan yang sama masih memenuhi ruang kosong dalam dirinya, ia menyebutnya dengan kotak Pandora. Takhayul yang entah kenapa semakin menjebloskan kewarasannya ke tingkat terendah.

Sejak kapan ia menjadi manusia labil seperti itu? Ia sudah dewasa, demi Tuhan. Ia bukan lagi anak-anak dengan jiwa imajinasi yang membumbung tinggi hingga ke angkasa. Siapa dia? Oh, pertanyaannya terlalu filosofis dan ia benci hal-hal yang bersifat demikian. Berbeda halnya tentu dengan sosok yang hanya mengisi satu kilo byte saja memori ponselnya. Hanya tiga kata dan tanpa berpikir panjang, pemuda ini merelakan kesibukannya pasca berpindah lokasi apartemen. Toh, yang meminta—ah bukan—memaksanya ‘tuk bertemu di tempat seramai ini sama sekali tidak peduli.

Temui aku sekarang.’

‘…’

‘Odaiba Park.’

Inilah pernyataan cinta versi Uzumaki Naruto. Mengajak pergi bernada pemaksaan. Tak tahunya, ia berlama-lama di alam semu. Sepersekian detik kemudian, gelap bertemu pandang dengan sepasang mata hitam yang mengabur oleh cuping topi yang dikenakannya.

Kuning matahari bersirobok bersama hitam oniks, “Siapa?” Lagi-lagi pertanyaan yang terlalu ideologis terulang dari belah bibirnya. “Siapa… kau?”

Baka. Ini aku.”

Oh.’

Tersadarkan oleh beban tepat di samping tubuhnya, ia kembali merebahkan diri di sandaran bangku coklat yang telah didudukinya selama lebih setengah jam. Namun, entah mengapa kedua tangannya masih basah—es krim kah atau embun kaleng Pocari? Menimbang-nimbang selama beberapa detik, terdiam adalah jawaban paling tepat saat ini. Menunggu dan menunggu hingga yang meminta berujar atau pun berkata selain baka, aho, bodoh, dobe itu menariknya dari alam tidur yang panjang. Sebab, panggilan-panggilan itu tak lagi masuk hingga ke dasar benaknya. Sudah mati.

“Hn.”

Terkadang pula, ia bisa lebih banyak membuat kosakata dibanding pemuda berambut hitam di sampingnya. Bukankah ia memang jauh lebih ribut di antara yang lainnya—kenapa aku harus diam? Kebisingan pula dibencinya, tetapi bukan berarti ia tidak menyukai satu kata itu. Memilih diam atau membuka mulut? Keduanya bukan opsi terbaik. Akan tetapi, sudah tak ada pilihan yang lebih baik daripada itu.

“Mau cerita apa? Tumben kau berubah melankolis.”

Sigh. Pemuda itu tersenyum, bukan, menyeringai. Kedua lengan saling bersilangan. Oke, dia sedang berusaha menghimpun kata, “Dia telah pergi. Dan, aku yang melepaskannya.”

Dua alis kuning terangkat naik sedemikian rupa. Kalimat macam apa itu? Sama sekali bukan Sasuke sok keren yang dikenalnya sejak sekolah menengah atas.

“Kau… apa?”

Jauh melebihi ekspetasinya, bahkan lebih lebih lebih jauh dari pengharapan yang digantungkan selama ini. Pemuda itu akhirnya bicara! Uchiha Sasuke memutuskan untuk berbicara! Oh, apa otak pemuda itu telah rusak? Seperti jam weker berbentuk piyo yang dibelikan oleh si pria kuning secara khusus untuknya, namun rusak begitu saja oleh ulah sang kakak yang tidak tahan dengan bunyi piyo piyo piyo-nya yang menyebalkan? Kerapuhan jenis apa yang mengebor hati sekeras kerikil itu? Pasti ada yang terlalu salah dengan kewarasan—ouch.

“Kenapa kau malah menginjak kakiku, heh, Teme?!

Dengusan terdengar. Jauh lebih jelas kali ini, “Kau diam. Itu mengerikan, Naruto.”

“Lalu? Kau mau aku berteriak di tengah lapangan sana dan berkata kalau pangeran kampus kita—oh Yang Mulia Uchiha Sasuke—baru saja memutuskan kekasih yang telah menemaninya selama enam tahun belakangan ini? Begitu yang kau inginkan?” pekik Naruto, tak peduli pada penjaja mainan yang lewat tepat di hadapannya. “Kau… gila. Hinata-chan itu gadis terbaik dari semua gadis! Dia satu-satunya yang menarikmu kembali dari lembah kesunyisenyapan yang ugh sangat gelap itu. Kau yakin otakmu bekerja dengan baik, ‘kan? Tadi pagi, kau tidak jatuh dan kepalamu tidak tertumbuk keras, ‘kan?”

Kesal. Seperti tiga segitiga siku-siku berwarna merah yang tergambar di sudut keningnya meski ditutupi oleh wajah semulus patung gips. Sasuke menghindar dari tangan pria berambut kuning yang berusaha mendapatkan jidatnya. Tawa tertahan mengusik indera pendengar miliknya.

“Hn. Dia akan lebih berbahagia dengan Neji.”

“Hah? Apa?” celetuk Naruto. “Maksudmu, kau dan Neji—apa?”

Sasuke memutar bola matanya, menghiraukan bintik-bintik sinar mentari berbentuk heksagonal, dan ikut merebahkan diri, “Lagipula… sudah terlambat untuk meminta maaf. Dia… terlalu takut. Begitu pula aku. Jadi, membiarkan hubungan ini berlanjut sama saja dengan menyakitinya.”

“Hei, hei, kenapa tiba-tiba kau membawa-bawa nama Neji di sini? Memangnya apa yang ter—“

Ia mendengus. Lagi. Sudah cukup bosan kah ia melewati separuh dari percakapan konyol dan sepihak ini hanya dengan dengusan? Ibaratnya jelaga api setelah membakar berhektar-hektar rumah, dengusan Sasuke lebih mirip disebut api yang sulit padam di tanah kering. Naruto hanya menawarkan alis yang mengerut dan memandang penuh tanya.

“Kau—memang benar-benar buta ya, bodoh.”

“Ap—apaaa?! Apa maksudmu tiba-tiba berkata aku ini buta dan bodoh dan—“

“Hn. Jadi, pria itu tidak memberitahu apapun padamu? Ah, wakatta. Dia temanmu, bukan? Teman karib yang baru saja kau kenal di lokasi kerja lapanganmu itu. Yah. Hidup itu memang ironis.”

Neji? Dan Hinata? Apa sebenarnya maksud dari percakapan ini? Apa yang tengah diutarakannya saat ini juga? Aku… tidak mengerti.

Sekilas, mata bertemu mata. Pertanyaan dan asa. Melebur seakan-akan masing-masing pihak menyadari penuh apa yang diinginkannya. Mungkin. Mungkin saja salah satunya terlalu sulit menerima kenyataan itu sendiri. Pikirannya terlalu lurus dan sulit baginya membuka bagian lain dari mata oniks yang memandangnya intens sedari tadi. Tak ada satu pun kata-kata yang diucapkannya penuh dengan nada keraguan. Tak adanya getaran di intonasi kosakatanya jua terlalu sempurna.

Lalu, ia teringat. Satu hal yang dahulu pernah terselip di dalam kotak memorinya. Ya. Ia mengenal nama itu. Hyuuga Neji. Pewaris sah Hyuuga corp pasca mangkatnya sang kakek oleh penyakit karsinoma lambung yang telah lama diberitakan menggerogoti kesehatan pria tua nan bersahaja itu. Memimpin lebih dari seratus kantor cabang sekaligus dan beban yang semakin bertumpuk di kedua bahunya terlihat jelas di wajah lelah pria berkuncir itu. Mata tak berpupil yang seringkali terlihat menyeramkan sekaligus berwibawa memberi kesempatan lebih bagi seorang Uzumaki Naruto ‘tuk menilainya. Disatukan dalam sebuah tim saat ia terpilih sebagai akuntan magang di salah satu perusahaan cabang Hyuuga corp menjadikannya begitu dekat dengan Neji. Ia tahu, Hyuuga Neji adalah pria langka yang ada di muka bumi ini. Tidak hanya sifat dan karakternya yang begitu kuat, ketampanannya jua menjadi modal untuk para gadis mengikik terpikat olehnya. Gadis mana pun pasti akan sangat beruntung mendapatkan Hyuuga Neji.

Apa yang dikatakan Sasuke sangat tak berkorelasi dengan ingatannya. Ia paham pria seperti apa Hyuuga Neji itu. Mengambil kekasih orang lain sungguh bukan bagian dari dirinya yang mahsyur. Mendengarnya saja terasa begitu hina, terlebih saat melihatnya langsung.

“Tidak mungkin… Ne Sasu—“

“Dan Hinata terpilih juga dalam tim kolaborasi kalian, bukan?”

Ya. Kalau yang itu sih tidak salah. Hinata memang setim denganku. Tapi, perihal Hinata dan Neji yang… duh!’

“Siapapun dapat berubah. Aku paham itu. Hinata juga bisa berubah. Lalu… aku akan berubah. Ya,” tuturnya, “Hanya butuh tiga hari saja dan Hinata merasa begitu terikat dengan pria itu. Kurasa, itu sudah sangat jelas. Hyuuga Neji dan Hyuuga Hinata bersepupu. Sepupu jauh yang konon pernah begitu dekat dan nyaris dijodohkan satu sama lain. Aku mendengar semuanya. Tepat dari bibirnya. Dan aku sudah tidak peduli lagi. Kukatakan saja yang sejujurnya—jika kau mencintainya, maka cintai saja dia. Sebab—“

Buag!

“BAKA! AHO! Grr…

Kau… telah membangunkan rubah berekor sembilan itu. Kau tak mungkin bisa lari lagi dari cengkeraman jari-jarinya yang dipenuhi kuku tajam. Cerita selesai. Done.

Pada dasarnya, Naruto sangat membenci kekerasan fisik. Sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang tenang meski didominasi oleh sikap ributnya. Ia lepas kendali bukan karena ia anak kecil pemarah atau egois. Jauh lebih dalam ia mengubur egonya demi mendengar sepatah demi sepatah kata milik Uchiha Sasuke—bersabar meladeni pemuda ini juga dilakukannya dengan kerelaan hati. Ia mendengar banyak desas-desus sepanjang perjalanan hidupnya mengenal pemuda sok keren ini. Tidak hanya pengakuan langsung dari bibirnya, namun juga dari Itachi, Mikoto-baa san, Fukagu-jii san serta Hinata sendiri. Bahkan, suatu hari Hinata menangis di hadapan Naruto, berbisik dan berharap agar pemuda berzodiak Libra ini dapat menerima karakter Sasuke yang tidak dinamis, kolot, dan super stoic. Manusia mana di dunia ini yang bisa tahan berlama-lama bersanding dengan Sasuke? Naruto pikir, tidak ada. Hanya Hinata dan ia. Tentu.

Itachi sendiri sulit memahami pembawaan adiknya yang begitu kaku. Jauh lebih beku dibandingkan sang ayah yang bertugas selama kurang lebih tiga puluh lima tahun di dunia kepolisian. Sasuke adalah pria unik, pikir Naruto. Namun, lagi-lagi ia dibuat memahami nasihat abang Sasuke itu padanya: setiap orang ribut membutuhkan yang pendiam. Fenomena kontradiksi.

Bekas berwarna ungu yang disebut sebagai memar terlihat jelas di pipi pucat Sasuke. Sayangnya, pemuda itu tetap diam. Kehilangan kata dalam lidahnya. Lalu, menolak memandang mata siapapun. Ke mana larinya Sasuke yang diketahuinya selama ini? Apa hidup selama enam tahun bersama-sama tidak mengajarinya satu hal? Cih.

Naruto mendecih, melepaskan topi, dan mencengkeram kerah kemeja Polo Sasuke. Mendelik, marah, lalu mengumpulkan kata. Ia memekik.

“Aku mengenalmu jauh lebih lama daripada aku mengenal Hinata. Namun, satu hal yang aku yakin selama ini, Sasuke—Hinata bukan lah gadis yang seperti itu. Ia bahkan berkata padaku agar aku bisa menjagamu di saat ia tak bisa mengawasimu! Kau tahu betapa sulitnya aku melakukan hal itu, hah! Kau—kau pernah lari dan berkata bahwa kau ingin mengejar impianmu menjadi seorang musisi dan sekali pun tak ingin lagi kembali ke rumah dan blabla lainnya, karena aku tahu ayahmu yang keras itu akan mengusirmu dari kediamanmu yang nyaman itu jika kau tetap bersikeras ‘tuk kabur. Lalu di saat Hinata tak hadir untuk menemani kegelisahanmu saat ia harus menghadapi operasi mata, hanya AKU yang mengejarmu dan membawamu pulang! Kau tentu paham tak hanya aku yang merasa disiksa dengan perilakumu, tetapi juga orang-orang di sekelilingmu, BUKAN?

‘Aku yakin kau jauh lebih dewasa dibandingkan diriku ini, Sasuke. Tidak seharusnya kau melepas Hinata hanya dengan alasan sesederhana itu.’

Seringai. Dan, tawa.

Genggaman Sasuke mencengkeram balik pergelangan tangan Naruto di kerahnya. Terlalu sulit baginya menerima sebagian besar teriakan Naruto padanya. Ia merasa diintimidasi. Dan, bukan sifat seorang Uchiha yang terhormat jika dibebani dengan pemberatan macam itu. Sasuke paham apa yang dilakukannya hanya akan menambah luka. Tidak hanya untuk dirinya semata, tetapi juga untuk Hinata dan Naruto. Naruto lah yang selama ini memahaminya di saat gadis tukang mengikik dan sahabat lelakinya hanya berdiam diri mengagumi kejeniusannya. Sasuke hanya manusia. Tiap manusia butuh waktu ‘tuk menjerit dalam diamnya. Itu lah Sasuke yang Naruto kenal.

Tetapi, tidak untuk saat ini. Naruto seakan tak dapat mengenal Sasuke di hadapannya. Ia… terlalu berubah.

“Kau mengenal orang tua Hinata? Mereka berasal dari Hyuuga. Dan Hyuuga memiliki tradisi yang amat keras. Mereka membenci keluarga polisi—mereka membenci keluargaku.”

Hampa. Wajahnya kosong, begitu pula arah tatapannya. Hitam bersirobok dengan kuning mentari. Keduanya sama-sama mencari perlindungan dari secercah cahaya. Kebohongan demi kebohongan yang dikatakan Sasuke mengusik kotak Pandora milik Naruto. Sasuke yang dikenalnya telah mati di dalam kardus seluas angkasa itu. Naruto semakin mengernyitkan dahi, melepaskan cengkeramannya, dan menatap lurus.

“Sejak kapan Sasuke yang begitu kukenal menjadi pria pengecut seperti ini? Ke mana larinya Sasuke yang tak pernah peduli pada tantangan hidup, heh? Kau bukan Sasuke. Kembalikan Sasuke yang dulu.” gumam Naruto. Respon Sasuke hanya dengusan dan seringai. Paket kombo yang sudah sering diterima si kepala kuning.

“Memangnya kau mengerti apa, hei Naruto? Kau bahkan tak pernah menjalin hubungan apapun. Satu-satunya yang kau pedulikan hanya aku. Jangan sombong.”

Buku-buku jemarinya mengeras. Digenggamnya erat sesuatu yang bernilai nihil di genggamannya. Dengan culas, si kepala kuning membalas, “Aku… memang tak pernah memiliki kekasih atau apapun namanya itu selama ini. Sebab, kenyataan kau—“ menyukai gadis yang dulu kusukai. Entah kurasa aku tidak pernah merasakan hal yang sama lagi padanya. Ia berhenti, “—tidak. Aku tidak butuh siapapun hingga saat ini. Aku merasa tak sendiri lagi saat bersamamu. Kurasa itu jauh lebih dari cukup.”

“Che. Kupikir kau benci hal filosofis. Dari mana kau belajar mengucapkan kata-kata itu, hn?”

Tentu saja pada Hinata, Teme.

“…”

“Neji… tidak mengatakan apapun padaku. Aku yakin karena… ia tahu aku berteman baik denganmu. Tetapi, kenapa seolah aku yang merasa tertekan di sini? Haha,” jawabnya dengan tawa palsu. Senyum kebohongan dan keletihan. Ingin rasanya melepas satu per satu topeng yang melekat di wajahnya saat ini juga, “Hinata juga tak mengatakan apapun. Ataukah karena aku terlalu buta? Ya, kurasa begitu. Aku selalu buta. Padahal—aku lah yang selama ini selalu bersama mereka berdua dan menjadi saksi. Kau benar, Sasuke. Aku bodoh dan buta.”

Denyutan nyeri. Tangan pucatnya membasuh memar keunguan di sana dan memijitnya perlahan-lahan. Sasuke melangkah, menjauhi zona nyaman yang melingkupi dirinya, dan mengamati keramaian yang bersunyi senyap. Dinikmatinya suasana akhir musim panas dengan mata terpejam. Meletakkan jemari-jemari itu kembali ke kolong sakunya. Ia berdehem menanggapi.

“Tapi… aku masih tidak percaya pada apa yang kudengar.” lanjut Naruto. Sasuke terkekeh.

“Jangan sok naïf begitu, dobe. Sudah kubilang bukan? Siapapun bisa berubah. Tak hanya Hinata, aku bahkan kau juga. Kau pikir kita bisa selamanya bersikap lurus seperti itu? Kurasa tidak.”

‘Apa sudah terlambat untuk meminta dan memberi maaf, Sasuke?’

“Aku—tidak peduli.” ujar Naruto sembari memasang tampang serius. Sosoknya yang tepat berada di balik lambang Uchiha milik Sasuke terkena bias bayang kehitaman saat mentari tertutup oleh awan mendung. Hujan di musim panas akan segera membasahi alam dunianya.

“Tsk! Berhentilah mengatakan hal-hal itu.”

“Aku mengenal Hinata, Sasuke.”

“…”

“Aku lah yang melihatmu ketika kau menggendong Hinata saat ia terjatuh pingsan di acara penyematan kelulusan di tahun pertama kita di sekolah menengah atas.”

“…”

“Aku lah yang selalu diam saat kau berbicara.”

“…”

“Aku selalu ta—“

URUSAI! KAU BERISIK SEKALI, NARUTO!”

‘Jadi… sudah sangat terlambat ya untuk mengucapkan kata maaf? Ataukah memberi maaf?’

Menurutmu, yang mana lebih sulit? Memberi maaf atau meminta maaf? Apakah keduanya sudah kau lakukan dengan baik? Ataukah kau hanya mengharapkan dari satu sisi saja? Bukankah kau dituntut ‘tuk bersikap selayaknya pria dewasa saat menghadapi masalah semacam ini?

‘…’

‘…’

‘…’

“Keluarga Hyuuga adalah keluarga yakuza, DOBE! Ia dan Hyuuga corp-nya hanya kedok! Sudah sangat lama Ayahku mengejar kemungkinan terbesar akan keterlibatan Ayah Hinata di balik usaha mafianya!”
                                                                                                                         
Kurasa, memang sudah sangat terlambat hanya untuk mendengar kata maaf saja. Bukan begitu, Sasuke?

Seperti nyanyian musim panas bersama para tonggeret. Kabaret di atas panggung sandiwara dengan penampilan yang spektakuler. Topeng-topeng khas Venezia memenuhi seisi stage yang luasnya tak terhingga. Mata emasnya menonton adegan demi adegan yang tak pernah berhenti meskipun remot kontrolnya tepat berada dalam genggamannya sendiri. Tetapi, kebisingan dan tawa riang si pemain tidak sekali pun terdengar nyaring di telinganya. Ia tuli, bisu dan buta. Lamat-lamat tayangan itu berubah drastis menjadi tontonan hitam putih khas Charlie Chapline. Lalu, garis-garis berlapis warna-warni menutup acara komedi yang berbuah kebisuan.

Ia akan terjatuh. Namun, ia menahan dengan keberanian yang masih tersisa. Naruto meyakini imajinasinya tidak terlalu berlebihan. Sebab, di saat itu juga ia berharap dapat meneteskan air mata.

Kau tidak pernah menceritakan apapun padaku, Sasuke. Tampaknya, hanya aku yang selalu meributkan hal-hal yang sama sekali tak begitu penting bagimu. Jadi… kau tidak percaya padaku, bukan?

Penyiksaan. Penderitaan. Kesendirian.

Ketiganya berwujud sama bagi Naruto. Ia lelah dan melihat rintik hujan di kedua pipinya. Bukan. Itu mungkin hanya air mata. Tetapi, rintiknya menderas dan tidak berhenti. Kedua pupilnya berdilatasi sempurna dan kelopaknya tak berkedip sama sekali. Ketika kesadarannya telah kembali, ia merasakan dingin yang teramat sangat menjalar dari jemari kakinya hingga ubun kepalanya. Ia bergerak mundur, terduduk dan menundukkan wajah. Basah. Seluruh tubuhnya kosong.

Kehilangan kepercayaan jauh lebih menyakitkan dibanding kedua opsi itu.

“…”

“…”

“…”

“Haha. Ha-hahaha.”

Kedua mata oniks itu mengamati hampa sosok yang tengah menunjukkan wajahnya ke atas langit seakan menerima hujan dengan tangan terbuka. Tubuhnya membeku dan merasakan hal yang sama. Dingin. Kenyataan lain menyadarkannya seketika tepat saat tawa pahit terdengar dari bibir Naruto. Didekatinya dan langkahnya pelan meski hilir mudik orang di sekitarnya berlarian menghindari rintik hujan yang tiada ampun membasahi. Tangan pucatnya melekat di atas kepala kuning yang basah.

Arigatou, Naruto.”

lalu, maafkan aku.

“Kau tidak pernah memercayaiku, ne Sasuke?”

“Tidak. Itu salah.”

“Jangan bohong.”

“…”

“Kenapa kau diam?”

“…”

“…”

“Biarkan aku menikmati hujan ini.”

“Apa?”

Tak saling menatap dan hanya dibatasi oleh pakaian-pakaian mereka yang semakin lama membasah tiap menitnya. Terdiam di tempat masing-masing. Saat salah satunya berusaha menyentuh yang lainnya, rasa dingin berganti dengan kehangatan semu.

“Aku tidak ingin menyakitimu, Naruto.”

a-apa?

“Kau sudah tahu itu. Jadi, aku hanya diam.”

“…”

“Hn. Angkat wajahmu itu, dobe.”

Lagi-lagi seperti titah seorang Raja yang sulit ditolak. Bernada penuh dengan pemaksaan dan keinginan kuat. Sebuah tanda posesif yang melebihi apapun juga. Perihal ini dan itu sebaiknya dikisahkan setelah adegan klimaks tayangan yang tak sekali pun berhenti berputar di proyektornya berakhir. Sebab, Sasuke hanya ingin membekukan waktu dalam pasak Naruto yang dipenuhi dengan imajinasi aneh. Sulit tentu bagi Sasuke ‘tuk menatap dalam-dalam kedua mata kuning yang dipenuhi dengan air.

Sesaat memenuhi keinginan paten sang Raja, Naruto mengamati dua bola berwarna oniks gelap yang aneh. Bukan lagi dipenuhi dengan amarah atau pun keraguan, melainkan lust. Bergidik ngeri terutama seringai pemuda itu semakin menambah aura dingin yang tak pernah meninggalkan sosoknya selama ini. Apakah itu hanya bentuk keputusasaan? Sebab, jika iya, saat itu juga Naruto akan…

“Mungkin terlalu terlambat, tetapi aku yakin aku sudah menceritakan segalanya padamu,” Dipejamkannya mata itu dan bergerak mendekati tanpa batas ke arah sosok yang terduduk di hadapannya. Rintik hujan terasa jauh lebih ringan kemudian, “Tapi—aku tak pernah kehilangan kepercayaan darimu, Naruto. Selamanya. Maka dari itu… tatap aku. Sekarang.”

hah?

Dua pasang mata bertemu.

Dan, bibir bertemu dengan bibir.

Dingin lalu hangat. Basah sekaligus mengejutkan.

Ketidakyakinan berubah pias oleh keyakinan yang dipatenkan melalui ciuman itu. Tidak begitu dalam, namun cukup menjadi jawaban tersendiri untuk Naruto memahami. Ia dan kebutaannya terhadap sinyal-sinyal lemah sangat mengganggu sosok yang berinisiatif sendiri menjelaskan segalanya meski di waktu-waktu yang sudah sangat krusial. Sasuke kembali menegakkan tubuhnya, mengamati wajah Naruto, lalu berbalik.

Sekali pun, tak ada keraguan untukku tak memercayaimu, dobe.

Kau… lagi-lagi terlalu buta dan tidak peka.

“O-Oi, teme!”

Kaget. Syok. Resah. Entah apa namanya itu, Naruto tidak paham. Sebab, ia merasakan kehangatan aneh yang ganjil di bibir dan hatinya. Setelah menyentuh bekas perjanjian yang dibuat Sasuke padanya, ada keanehan yang meliuk-liuk dari kotak Pandora-nya. Tiba-tiba saja segalanya yang bersembunyi di dalam menyembur keluar tiada henti. Terbuka dan tak ingin lagi menutup. Naruto merasakan kebebasan yang menjamah hingga ke dasar kesadarannya. Sangat tak biasa dan manis.

Ia mengejar dan berlari. Mengawasi langit dari jarak sejauh ini dan melihat garis berkromatisasi terbentuk di sana. Mereka menyebutnya pelangi. Terkadang ia tak bisa memahami segala sesuatu yang bergerak terlalu cepat di depan matanya, terutama adegan-adegan tayangan komedi dan opera sabun yang sedari tadi memenuhi isi kotak imajinasinya. Sedetik kemudian, ia tersadar meski tak sepenuhnya.

Ada alasan mengapa Sasuke memanggilmu ke tempat ini. Kau… memang bodoh, Naruto!’

Bukankah mereka sekarang sedang membentuk sebuah kisah baru? Jauh lebih dalam dibanding hubungan yang selama ini mereka jalani? Oh. Mungkin saja. Yang penting, kejujuran dan kepercayaan satu sama lain menjadi kunci dari sikap aneh pemuda berambut hitam itu.

Kau memang benar-benar buta, Naruto!’

“Hn.”

---
OMAKE:

“Oi, teme!”

“Huh?”

“Tsk. Ta-tadi itu untuk apa, hah?

“Hn. Tidak tahu.”

“…”

“Kupikir kau akan berhenti mengucapkan kata-kata aneh dan bersikap sok melankolis jika aku melakukan hal itu.”

Grrr! Kau tidak sadar ya kita berada di tempat umum! Publik!”

“Hn. Memangnya aku peduli?”

“AARRGH! TEME BAKA!”

---
fin
---

A/N : Ha-Happy Fujoshi Day! (gyay)/
Dan penpik ini benar-benar gagaaaaaal! Huks. DX
;;w;;





6 komentar:

denayaira mengatakan...

Selama membaca fanfic saya cuma bisa bertanya-tanya...

Kenapa... kenapa... kenapa... kenapa fanfic ini nggak diposting di FFN??? #dzigh

Padahal 'kan caya 'kan pengen ngefave iniiii. Higz. TT3TT

Jujur aja saya ngebaca fic ini berasa... uh, galau? Kerasa banget gamang dan kacaunya /coret/author/coret/ Naruto sedari awal sampai mendekati akhir fic ini, dan itu menular. #eh

Sebenarnya saya masih agak meraba-raba point fanficnya ini... atau mungkin karena sayanya yang bego atau gimana aish. Jadi Sasuke mutusin Hinata karena Hinata ternyata menjalin hubungan sama si Neji, dan Sasuke sendiri cuma mendekati dia demi penyelidikan ayahnya? Sebaliknya, Naruto malah jomblo melulu (#dirasengan) karena dia suka Hinata tapi patah hati, padahal Sasuke justru diam-diam suka dia?

.......numpang pusing dulu. #dzigh

But, overall this is... nice. Saya suka endingnya dong. Apalagi omakenya. Buhahahaha. :hearts: Sayang kenapa nggak lebih mesra lagi sedikiiiiiit aja. #ditaboks

That's it, dear. Maapkan repiu saya yang abal. Ihik. Kalo ntar posting di FFN bilang-bilang ya~ *wink, wink*

Best Hug, ;p
Nad

Leon mengatakan...

GYAAAAA~ (gyaytothemax)
Ung, ung, ung. *peyukin Nad duyu* :3

Radanya penpik ini saya buat semisterius mungkin. Mengingat saya gak kuat ngingat kisah 'sesungguhnya' yang terjadi pada diri saya karena aslinya gak kayak gitu. *plak* [inosenface] Mungkin yang Nad kira dan curigai ada benarnya juga. Enam tahun Sasuke menjalin hubungan bersama Hinata semenjak tahun pertamanya di SMA. Semenjak itu pula dia kenal teramat dekat dengan Naruto. Seperti Naruto lah satu-satunya yang cuma ngerti dunia Sasuke dan sikapnya yang begitu. *dordordor* Bisa jadi juga Sasuke memacari Hinata dengan motif seperti itu. Tapi, inti sebenarnya dari penpik ini hanya 'kepercayaan' kok. Naruto selalu merasa menjadi 'orang yang bisa dipercayai' Sasuke, tetapi malah di saat masalah gede begini, Sasuke-baka malah gak mau cerita apa-apa, mengingat Naruto itu 'buta' soal mengartikan sinyal-sinyal cintwaah. =w= *gue banget ituh* *coretcoret*
Mungkin secuil ini yang bisa saja jelasin. Dan... HUG YOOOU MPE SESEK! XDDD

*cipokin Nad* :*
Sankyuu~

Chichan mengatakan...

Komen saya sepertinya sudah diwakili Nad dan dijawab ma Leon (yay) #telathadir

dan bener kata, Nad. Aura(?) yang terasa dari fic ini adalah galau. Hihi~

Sebenarnya sempet bingung juga. Saya harus baca 2-3 kali di beberapa kalimat sebelum benar-benar ngeh apa yang dimaksud. Tapi kebingungan dan rasa kecewa dari Naruto benar-benar kerasa.

--

Biarpun seseorang percaya kepada orang lain. namun, mungkin saja orang tersebut belum bisa mengatakannya secara langsung kepada orang yang ia percayai. Bingung, resah, bagaimana menyampaikannya, tanggapan apa yang akan didapat, dll. (Sasuke?)

Ketika orang merasa tidak dipercaya. Merasa seperti terkhianati karena berpikir apakah dirinya tidak pantas untuk dipercayai oleh orang yang ia pedulikan? (Naruto?)

atau mungkin seseorang yang mendapat kepercayaan yang disampaikan dari orang lain. Namun, mungkin ia merasa tersiksa karena tidak bisa membalas kejujuran dan kepercayaan orang lain dengan sebuah kejujuran miliknya. (Neji/Hinata?)

'Hati manusia adalah yang paling menyeramkan darinya.'

dan kalau pada bingung, tidaklah apa karena saya sendiri juga bingung #plak

dan seperti yang Nad bilang, kurang nih mesra-mesraannya #dordordor

Leon mengatakan...

Chichaaaaan... Ufu-ufu-ufu~ <3

Huggie Chichan dulu sebelum membalas ripiunya. XD

Ung, ung. Iya. Neji dan Hinata hanya berusaha menjaga perasaan Naruto sebenarnya, maka dari itu mereka gak pernah menceritakan apa-apa meski konon katanya sinyal-sinyal 'romens' udah pada timbul semenjak hari ketiga *sesuai yang saya tulis di penpiknya* mereka bekerja sama di timnya kantor cabang Hyuuga corp. Sekali lagi, Naruto terlalu 'buta'. Coz, dia emang gak peduli. *plak*

Naruto jadinya malah tersiksa. Kenapa gak ada satu pun yang mau jujur ke dia, seolah dia cuma anak kecil yg gak tau apa-apa soal percintaan blablabla. Wkwk. Makanya, dia sempat marah juga ke Saskay. Bu bu bu~ :3

Naruto juga selalu ngerasa dirinya yang paling peduli soal Sasuke, di saat orang-orang di sekitar Sasuke pada gak merasa kayak gitu ke dia. So, 'kebanggan' menjadi satu-satunya sosok yang 'dipedulikan' dan 'memedulikan' udah tumbuh subur di hatinya. Yah... gitu deh. *gaje*

Temen saya juga selalu bilang, "Hati manusia itu bisa berubah-ubah mengikuti gelombang sepeti perahu di tengah badai."

Hinata bilang sendiri ke Sasuke dan Sasuke paham, terlebih ada 'tembok tinggi' yang ngebuat mereka pada desperate buat ngelanjutin hubungan itu. (oke, kenapa malah gue yang ngerambling di sini) =___=

Endingnya, Saskay sadar, yang selalu ada tapi 'buta' cuma Naruto. Naruto mungkin the last hope-nya. Hehe.

Uooooh. Apa yang saya tulis ini. [pundung]

Makacchuu ripiunya Chichan. Huggie you lagi. XD

Chichan mengatakan...

Hati manusia memang tidak bisa ditebak.

Leon mengatakan...

Yup. ;)

Diberdayakan oleh Blogger.